PENDAHAHULUAN
1.
Latar Belakang Pembahasan
Manusia
adalah mahluk sosial.[1] sebagai
mahluk sosial, manusia menjalin suatu hubungan atau interaksi dengan yang lain.
Manusia mempunyai kemampuan interaksi dengan mahluk yang lain dengan
perantaraan lambang-lambang yang menjadi kunci untuk memahami kehidupan sosial
manusia. Lambang-lambang yang digunakan oleh manusia dalam berinteraksi
tersebut salah satunya adalah bahasa. Menurut Mead menyatakan bahwa
lambang-lambang, terutama bahasa, tidak hanya merupakan sarana komunikasi
antarpribadi, tetapi juga untuk berpikir. Menurut catatan ilmu–ilmu masyarakat tidak
ada dikenal suatupun masyarakat manusia di dunia ini, yang tidak mempergunakan
bahasa.[2] Maka,
bahasa menjadi bagian hal terpenting dalam manusia, terutama dalam komunikasi.
Memahami suatu taks-teks atau naskah juga merupakan suatu komunikasi. Memhami
suatu teks-teks atau naskah merupakan cara untuk memperoleh infomasi dari yang
lain. Dengan memahami teks-teks atau naskah tersebut seseorang mencoba menemukan
maksud atau nilai yang terdapat pada pada teks atau naskah tersebut. Oleh
karena itu, memahami bahasa yang ada pada teks atau naskah merupakan salah satu
gagasan Jurgen Habermas dalam hermeneutik kritisnya. Maka, pembahasan yang
hendak disampaikan pada paper ini adalah bagaimana memahami teks atau naskah
dalam sebuah hermeneutik kritis terutama berdasarka pokok pikiran Jurgen
Habermas.
2.
Perumusan Masalah
Dalam
berinteraksi, manusia mengunakan bahasa sebagai sarana untuk saling mengenal
sekaligus dalam menjalin sebuah relasi. Namun bahasa bukan semata-mata apa yang
dikatakan atau suara yang keluar dari mulut, melainkan bahasa adalah
serangkaian simbol-simbol yang dapat dipergukan untuk mengkomunikasuatu
gagasan, pendapat atau perasaan seseorang terhadap yang lain. Serangkain
simbol-simbol tersebutlah yang disusun menjadi suatu yang koheren atau satu kesatuan
untuk menyampaikan suatu maksud. Dalam bahasa ini, yang hendak dibahas pada
hermeneutik atau menafsirkan sebuah teks. Dalam sebuh teks tersebut, hendak
dicapai apa yanng menjadi maksud atau nilai dari teks tersebut sehingga teks
tersebut dapat dipahami dengan baik, sesuai dengan maksud dari si penulis teks.
Berkaitan dengan memahami teks tersebut tentulah yang menjadi pokok bahasan
adalah bagaimana memahami bahasa yang terdapat pada teks tersebut. Oleh karena
itu, pemahaman tentang suatu bahasa sangat berperan andil dalam menafsirkan
bahasa pada teks. Pada paper ini, penulis menspesifikkan yang hendak dibahas,
yakni pemahaman bahasa yang terdapat pada teks, sehingga teks tersebut mampu
dipahami. Oleh karena itu, penulis akan membahasa penafsiran suatu teks
berdasarkan teori atau gagasan dari Jurgen Habermas. Jurgen Habermas ini di
anggap sebagai seorang filsuf hermeneutik kritis dari kewarganegaraan Jerman.
Gagasan Habermmas tentang menafsirkan suatu teks dalam konteks pemahaman akan
bahasa pada teks yang hendak ditafsirkan.
3.
Tujuan Pembahasan
Dalam
pokok bahasa hermeneutik kritis oleh Habermas terhadap suatu pemahaman akan
bahasa yang ada di dalam suatu teks menjadikan orang paham akan teks tersebut.
Maka dari itu, yang menjadi tujuan dari pemahaman bahasa pada teks atau naskah dalam
rana penafsiran, yaitu:
a.
Mampu
memahami bahasa pada suatu teks atau naskah berdasarkan gagasan Jurgen
Habermas.
b.
Mengenal
dan memahami hermenutik krits oleh Jurgen Habermas.
c.
Mampu
memahami dan membedakan jenis hermeneutik berdasarkan Jurgen Habermas.
d.
Mengembangkan
wawasan tentang bahasa dalam sebuah hermeneutik.
e.
Mampu
mengambil nilai yang baik dari tokoh yang dibahas untuk kehidupan sehari-hari.
f.
Memenuhi
tugas logika dan bahasa yang diberikan oleh RD. Antonius Moa.
BAB II
POKOK PEMIKIRAN JURGEN HABERMAS
1.
Hidup dan Karya-Karya Jurgen Habermas
Jurgen
Habermas lahir
pada tanggal 18 juni 1929 di Gummersbach. Ayahnya adalah seorang direktur kamar
dagang dan industri
di kota Gummersbsch. Habermas
belajar kesusastraan
jerman, sejarah, filsafat, ilmu bidang
psikologi, dan ekonomi di Universitas
kota Gottingen. Kemudian ia melanjutkan studi filafat di Universitas Bonn dan
meraih gelar filsafat tahun 1954. Pada tahun 1956, Habermas bergabung dengan Lembaga Penelitian Sosial di Frankfurt dan menjadi asisten
Andorno. Habermas
juga mengikuti suatu proyek riset mengenai sikap politik mahasiswa-mahasiswa di
Universitas Frankfurt. Ia mengerjakan segi teoritis dan hasil penelitiannya
terdapat dalam buku Student
und Politik
(Mahasiswa dan Politik). Selain itu, Habermas juga mempersiapkan habilitationsschriftnya. Karangan ini
berjudul struktur wandel der
oeffentlichkeit (perubahan
dalam struktur pendapat umum) yang berisi suatu studi yang mempelajari sejauh
manakah demokrasi masih memungkinkan
ada pada masyarakat industri
modern. Namun, habilitationsschrift
tersebut tidak dapat dilaksanakan di kota Frankfurt. Oleh karena itu, ia
mencari seorang promoter di tempat lain, dan akhirnya berhasil di Marburg. Pada
tahun 1964, Habermas
kembali ke Frankfurt sebagai profesor sosiologi dan filsafat untuk menggantikan
Horkheimer. Habermas
juga pernah menerima tawaran untuk menjadi direktur dari Max Planck di
Starnberg yang mempelajari
kondisi-kondisi dalam kehidupan dunia ilmiah-teknis. Habermas telah menulis sejumlah buku.
Gagasannya mengenai hermeneutik dan bahasa termuat dalam bukunya yang bejudul Knowledge and Human Interest.
2.
Latar Belakang Pemikiran Hermeneutik
Habermas
Pandangan
Habermas tentang hermeneutik tidak disampaikan secara khusus namun Habermas dapat dikatakan salah seorang
hermeneutik
karena gagasan-gagasannya mendukung pustaka hermeneutik. Menurut Habermas antara penjelasan dan pemahaman
memiliki konsep yang berbeda. Ia berpendapat bahwa suatu penjelasan menuntut
penerapan preposisi-preposisi teoritis terhadap fakta yang terbentuk secara
bebas melalui pengamatan sistematis.[3] Penjelasan
yang dimaksud Habermas
adalah sesuatu yang telah kita pahami secara teoritis melalui preposisi yang
diperoleh terhadap keadaan fakta atau realita. Sedangkan memahami menurut Habermas adalah suatu kegiatan dimana
pengalaman dan pengertian teoritis berpadu menjadi satu. Suatu pemahaman berarti antara
preposisi-preposisi teoritis disatukan dengan pengalaman sehingga pengertian
yang teoritis tersebut sesuai dengan pengalaman fakta atau realita yang
dialami. Konsep Habermas
pada penjelasan
tersebut mendekati suatu metode ilmiah seperti dalam metode penguasaan bahan dan metode pemikiran apriori karena konsep tersebut berpuncak pada
keyakinan-keyakinan yang valid dan defenitif.[4] Titik berangkat
gagsan Habermas
terhadap hermeneutik ialah
prinsip-prinsip penjelasan dan pemahaman.
2.2. Metode Memahami
Habermas menegaskan bahwa tidak semua hal
dapat dipahami sepenuhnya
makna akan suatu
fakta dengan baik sebab ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasikan. Oleh sebab itu, kita tidak mungkin menerangkan hal-hal yang yang tidak dapat
dipahami bahkan kita juga tidak dapat
menginterpretasikan hal-hal tersebut. Habermas menegaskan juga bahwa suatu
penjelasan haruslah berupa penerapan secara
obyektif suatu hukum atau teori terhadap realita. Pemahaman menjadi bagian subjektif sebab pemahaman melibatkan interpreter. Habermas berpandapat
bahwa pemahaman hermeneutik
kritis
sedikit berbeda dengan pemahaman hermeneutik biasa, sebab pemahaman hermeneutik biasa diarahkan pada suatu konteks tradisional
tentang makna. Pemahaman tersebut oleh
Habermas disebut sebagai pemahaman monologis
atas makna, yaitu pemahaman yang menyangkut hubungan-hubungan faktual tetapi menyangkut bahasa-bahasa
murni, seperti bahasa simbol.[5] Bagi
Habermas hermeneutik adalah pemahaman tentang makna yang mampu
mengartikan hubungan simbol-simbol
sebagai hubungan anatarfakta yang ada.[6] Hermeneutik yang dimaksud oleh Habermas tidak sebatas pemahaman monologis, yang pemahaman-pemahannya atas simbol-simbol yang menyangkut bahasa murni, karena simbol-simbol mempunyai makna
yang defenitif,
sebagaimana ketetapan pada rumusnya. Dengan demikian, pikiran monologika adalah
suatu jalan pemikiran yang terstruktur, yang mengikuti sesuatu hukum dengan segala ketentuan dan keharusannya. Pemahaman monologis
dapat dilogikan
pada ilmu alam
sedangkan hermeneutik
itu sendiri lain sisi tidak
selalu menyangkut analisis struktur dari objeknya. Sebab jika hermeneutik hanya berfokus pada suatu analisis
struktur terhadap objeknya, maka hermeneutik akan mempersempit makna dari suatu
tafsiran terhadap objek tersebut.
2.3. Jenis Pemahaman
Melalui
metode pemahaman yang diutarakan oleh Habermas, ia menyatakan bahwa hermeneutik biasanya mencoba
menerangkan yang individual bukan yang universal. Namun yang universal
merupakan salah satu cara untuk menerangkan yang individual. Proses tersebut
dapat terjadi atas dasar asimilasi transendental apriori dari pengalaman yang
mungkin dengan ungkapan universal bahasa-bahasa teoritis.[7]
Pemahaman hermeneutik Habermas melibatkan tiga jenis ekspresi kehidupan, yaitu:
linguistik, tindakan dan pengalaman. Mengenai linguistik, Habermas berpendapat
bahwa ekspresi atau ungkapan dapat dipisahkan dari konteks kehidupan konkret
apabila tidak berkaitan dengan bagian-bagian khusus pada konteks tersebut. Jadi
ekspresi linguistik tersebut bersifat absolut yang menggambarkan pemahaman monologis.
Pada pemahaman ini muncul suatu masalah antara apa yang diungkapkan dengan apa
yang dimaksudkan, apabila tidak ada interpretasi kerja atau hermeneutik.
Kemudian melalui tindakan atau kegiatan dapat terjadi melalui sebuah
komunikasi. Hal inilah yang membantu pemahaman linguistik, yakni suatu penjelasan yang
diarahkan pada tujuan akhir, seperti maksud dan ruang lingkup dari tindakan
tersebut. Pada ekspresi pengalaman, yang utama pada bagian ini adalah reaksi
tubuh manusia yang berupa kecenderungan yang tidak dinyatakan atau sebagai
ungkapan nonverbal, serta seorang intrepreter menjadi penentu dari suatu
pemahaman.
Ketiga pemahaman tersebut berasal dari Dilthey[8]
yang kemudian dikutip oleh Habermas sebab menurut Habermas ketiga jenis
pemahaman hermeneutik tersebut suatu integrasi atas ungkapan suatu kehidupan.
Jadi, pada hermeneutik akan tampak kombinasi antara bahasa, tindakan, dan
pengalaman, serta usaha dalam membuat interpretasi.[9]
2.4. Dilema
Pemahaman
Habermas menyatakan bahwa sebagai suatu
seni yang menggambarkan seni komunikasi tidak langsung tetapi dapat dipahami,
hermeneutik
berhubungan dengan jangkauan yang harus dicapai oleh subjek dan pada saat itu
pula diungkapkan kembali sebagai identitas struktur yang terdapat di dalam kehidupan, sejarah, dan objektivitasnya. Di sini hermeneutik menghadapi dilema antara tetap objektif
dan bersifat subjektif, atau anatara tetap subjektif dan harus menjadi
objektif.[10] Dilema ini semakin tampak dalam
ilmu-ilmu pengetahuan tentang hidup atau geisteswissenschaften[11] dan itu muncul pada pertanyaan dalam eksklusif linguistik atau analisa empiris. Pada dilema
memahami tidak ada tempat disjungsi, sebab seseorang tidak dapat
malakukan analisis linguistik eksklusif atau analisis empiris murni. Bagi Habermas pemahaman merupakan suatu
kombinasi antara analisis linguistik eksklusif dengan analisis empiris murni.
Oleh sebab itu, sebuah interpretasi tergantung pada hubungan timbal balik
antara pemahaman atas bagian-bagian yang merupakan keseluruhan yang terdiri
dari campur macam-macam hal yang sudah diketahui sebelumnya dan koreksi
terhadap apa saja yang pada suatu saat dirasakan tidak sesuai lagi. Habermas meneruskan tugas Dilthey[12]
dengan menyatakan bahwa Dilthey
telah mengikuti logika penyelidikannya sendiri dan melihat bahwa objektivitas
pemahaman hanya mungkin bila interpreter atau hermeneutik menjadi partner dalam dialog
komunikatif. Jadi
hermeneut harus menghadapi interaksi,
anatara yang umum dan yang individual. Apa yang benar di dalam yang universal tidak secara pasti
benar dalam yang individual atau apa yang benar di dalam individual tidak secara tetap juga
menjadi benar dalam
universal. Perbedaan antara ilmu-ilmu alamiah dan ilmu-ilmu kemanusiaan terlihat jelas. Berdasarkan ilmu
alam, apa yang benar secara individual akan benar pula secara umum melalui
proses induksi. Induksi ialah suatu kebenaran umum akan diperoleh dengan menentukan kebenaran yang terdapat pada hal-hal tunggal dan
individual. Sedangkan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan penjelasan
dan interpretasi berlangsung dari yang individual ke individual juga. Pada
ilmu-ilmu kemanusiaan
jarang terjadi proses dari yang umum ke yang individual atau proses yang
individual ke yang umum. Pada
dasarnya ilmu-ilmu kemanusiaan
tidak mengikuti skema ilmu-ilmu alamiah. Menurutnya suatu proses tertentu mampu
memberi kemungkinan hermeneut untuk menentukan kehidupan batin dari hal-hal
yang telah diinterpretasikannya. Oleh sebab itu, Habermas berupaya berpaling kepada
‘metode’ lain yang layak untuk diterapkan pada geisteswissenschaften. Habermas
menyadari akan kesulitan yang dihadapi oleh para interpreter jika mereka juga
harus menanggung beban analisis empiris, padahal ilmu pengetahuan hermeneutik bekerja pada tingkatan tindakan
komunikatif.[13]
Dengan demikian Habermas
menyatakan bahwa pada saat interpreter membuat analisis, ia tetap pada
tingkatan tindakan komunikatif, sehingga analisisnya akan bersifat dialogal. Meneurut Habermas ada interaksi antara bahasa,
tindakan dan pengalaman. Akan tetapi, bagi Habermas bahasa dan pengalaman tidak
menjadi syarat yang utama bagi suatu tindakan dalam konteks tindakan komunikatif.
Sebab baginya bahasa dan pengalaman harus masuk pada dialektik dengan tindakan.[14]
Jadi, apabila seseorang hendak membuat interpretasi yang benar dan tepat, ia
harus mengusahakan
dialog antara bahasa dan pengalaman di satu
sisi dengan tindakan di sisi lain.
3. Hubungan antar Bahasa, Pengalaman dan Tindakan
Dalam
buku yang berjudul The Theory of
Communicative, Habermas
membagi tindakan menjadi beberapa jenis, yakni:
3.1. Tindakan teologis
Menurut Habermas tindakan teologis merupakan cara
mempertahankan tujuan yang khusus. Cara untuk mencapai tindakan ini dibutuhkan
sarana yang tepat dan baik yakni dengan membuat keputusan.[15]
Untuk melatih tindakan tersebut dibutuhkan suatu model strategi dengan makna
untuk memperhitungkan keberhasilan tindakan seseorang, serta antisipasi dari
keputusan yang menjadi bagian dalam tujuan yang harus dicapai dari seseorang
tersebut. Maka dari itu, yang menjadi konsep utama dari tindakan ini adalah
keputusan.
3.2. Tindakan normatif
Yang dimaksud pada tindakan normatif[16] adalah
tindakan yang tidak mengutamakan pada tingkah laku aktor soliter(sendiri),
namun tindakan ini diarahkan untuk anggota-anggota kelompok sosial. Sebab
banyak orang atau anggota-anggota kelompok sosial pada umumnya mempunyai
kecenderungan kepada nilai-nilai yang berlaku secara umum sehingga nilai yang
berlaku secara umum tersebut menjadi pengukur tindakan dari seseorang atas
dasar kelompok. Maka yang menjadi fokus utama dari tindakan ini adalah
pemenuhan terhadap norma yang berlaku.
3.3. Tindakan dramaturgik
Pada tindakan ini yang menjadi hal utama bukanlah
perseorangan atau anggota-anggota kelompok, melainkan peserta yang bertindak
yang ditujukan kepada masyarakat umum atau pendengarnya.[17]
Jadi, seseorang mencoba menampilkan diri dalam suatu gambaran penampilannya
tersebut. Maka, yang menjadi utama pada tindakan ini adalah penampilan dirinya
dihadapan umum atau masyarakat.
3.4. Tindakan Komunikatif
Menurut Habermas tindakan komunikatif adalah suatu
tindakan yang mengarah pada interaksi, minimal terdiri dari dua orang yang
mempunyai kemampuan berbicara dan bertindak, serta dapat menjalin hubungan
antarpribadi baik secara verbal ataupun secara nonverbal. Pada tindakan ini,
seseorang mencapai pemahaman terhadap situasi tindakan dan rencana-rencana
tindakannya sendiri. Jadi, yang menjadi fokus utama dari tindakan ini adalah
sebuah interpretasi. Sebab dalam interpretasi bahasa mendapat tempat yang
utama. Namun, untuk mencapai suatu pemahaman dengan perantara bahasa dibutuhkan
suatu pengarahan. Pengarahan yang dimaksud oleh Habermas pada tindakan ini
adalah pengarahan semacam mekanisme tindakan yang terkoordinasikan. Sehingga
dalam menggunakan kosensus tertentu seseorang dapat mengkoordinir dirinya
sendiri ke arah tujuan yang hendak dicapai.
4. Peran Minat Dalam Hermeneutik
Habermas terkenal dengan pandangan tentang
minat atau interest. Tentang minat, Habermas berpendapat bahwa minat adalah
orientasi dasar yang berakar dalam kondisi fundamental khusus dari reproduksi
yang mungkin dan kelangsungan hidup spesies manusia adalah kerja atau karya dan
interaksi.[18]
Contohnya, sesuatu yang diminati atas dasar pancaindra adalah kesenangandan
kegunaan, sedangkan yang
diminati atas dasar penalaran adalah masuk akal. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dari hal yang
menyenangkan dapat muncul kecenderungan untuk sesuatu yang baik dan masuk akal.
Habermas memasukkan minat pada sebuah
hermeneutik karena
menurutnya minat dan pengetahuan adalah satu kesatuan dan keduanya berpadu
menjadi satu dalam bahasa yang dipakai oleh manusia. Habermas sendiri menyebut pengetahuan
tentang minat manusia dengan istilah ersatz.
Menurut Habermas
ada tiga jenis ilmu pengetahuan yang berkaitan tentang jenis-jenis interst atau minat tertentu yakni, minat
instrumental atau mekanis menguasai ilmu-ilmu pengetahuan analisis-empiris,
minat praktis mempengaruhi ilmu pengetahuan hermeneutik-sejarah, dan minat dalam emansipasi berhubungan
dengan ilmu-ilmu pengetahuan sosial yang berkaitan dengan kritik, atau disebut
juga ilmu pengetahuan sosial-kritis. Sasaran yang hendak dicapai pada ilmu pengetahuan
sosial-kritis adalah hubungan-hubungan yang terpaku karena penerapan suatu
ideologi tertentu dan hungan tersebut dapat dirubah melalui kritik. Habermas meninjau kembali pandangan Hegel dan Kant tentang evolusi. Menurut Habermas, kesadaran kritis harus mengaktifkan
diri tampil pada posisi melalui tingkatan-tingkatan refleksi yang dapat disusun
dengan pengulangan sistematis pengalaman-pengalaman yang menetapkan sejarah
umat manusia. Habermas
mewarisi konsep Karl Marx tentang kerja[19]
sebagai keberadaan manusia dan tidak terikat pada bentuk-bentuk masyarakat.
Maka ia menyatakan bahwa kerja memiliki fungsi sintesis, namun dapat juga dijauhkan dan
diasingkan dari manusia.
Konsep kerja yang dianut oleh Habermas dari Karl Marx ialah bahwa kerja
merupakan syarat keberadaan manusia dan tidak menjadi terikat pada suatu
bentuk-bentuk masyarakat yang ada. Oleh sebab itu kerja memiliki fungsi yang
sintesis, namun kerja tersebut dapat menjadi bahaya bagi manusia. Pendapat Karl
Marx ini juga mendapat kritikan dari Habermas sebab menurutnya Marx telah
menipu dirinya sendiri dalam kaitan dengan hakikat refleksi yang ia kembalikan
pada kerja, sebab Marx menarik proses refleksi tersebut kepada tingkatan yang
instrumental. Marx membahas refleksi berdasarkan model produksi bukan
berdasarkan sebagai hubungan dengan pengetahuan. Maka dari itu, Marx tidak
membedakan antara ilmu alamiah dengan ilmu pengetahuan atau dengan kata lain
Marx menyatukan kedua ilmu tersebut merupakan satu, yang dirangkum oleh ilmu pengetahuan
yang lain yang bersifat tunggal.
Menurut Habermas minat yang tertinggi dan dasar dari
semua minat adalah minat terhadap diri kita sendiri. Baginya penalaran
mempunyai minat praktis yang menjadi milik penalaran itu sendiri, sehingga bila
seseorang berefleksi, maka refleksi itu juga merupakan tindakan kebebasan dan
emansipasi.[20]
Bagi Habermas bila seseorang berefleksi maka seseorang tersebut mempunyai
inisiatif “menikam”[21]
dirinya sendiri. Dengan demikian Habermas berkesimpulan bahwa refleksi diri
merupakan intuisi dan emansipasi sekaligus, pemahaman dan kebebasan dari
ketergantungan pada dogma. Minat mendahului pengetahuan dalam artian bahwa
minat merupakan pendorong munculnya pengetahuan dan dalam kaitannya pada proses
realisasi pengetahuan memberikan kepercayaan kepada minat. Habermas setuju dengan
kritik yang dibuat oleh Sigmund Freud tentang psikoanalisis terhadap makna,
refleksi diri dapat bersifat ilmiah.[22]
Habermas mengatakan bahwa tata bahasa dari bahasa sehari-hari tidak hanya
mengatur hubungan simbol-simbol tetapi menjalin unsur-unsur bahsa, pola-pola
tindakan dan ungkapan-ungkapannya. Oleh karena itu, seorang hermeneut harus
mampu melihat hubungan-hubungan sesuatu untuk menguraikan suatu misteri yang
dihadapinya. Maka, dalam menginterpretasi diperlukan terlebih dahulu suatu
refleksi akan dirinya sendiri. Atas pengertian ini, diri sendiri menjadi pangkal
tolak suatu interpretasi. Jadi, Habermas ingin mengobjektifikasikan semua
hermeneutik yang terlalu subjectif atau mengsubjektifkan semua metode yang
terlalu ilmiah, dengan cara menarik kedua hal tersebut menuju refleksi diri dan
minat.
5. Jenis Hermeneutik
Dalam gagasan Habermas, ia membagi paham hermeneutik
menjadi dua jenis, yaitu:
5.1 Hermeneutik Biasa
Salah satu tesis Gadamer adalah bahwa setiap pengetahuan
tentang kenyataan , baik itu seni, sejarah atau sains, bertolak dari horizon
pemahaman tertentu yang menjadi prapemahamannya,
maka semua pengetahuan mangandung masalah hermeneutis.[23]
Oleh karena itu bagi Gadamer
masalah hermeneutis universal yakni berlaku untuk semua pengetahuan yang tampak
di dalam bahasa dan bahasa
tersbut
yang merangkum semuannya. Pendapat Gadamer
terhadap masalah hermeneutik
universal tersebut ditentang oleh Habermas
sekaligus mengkritik pendapat Gadamer tersebut dengan pandangan hermeneutis
kritisnya. Bagi Habermas,
hermeneutik
yang dipahami oleh Gadamer
tidaklah dapat digunakan pada setiap ilmu pengetahuan yang ada. Habermas sendiri mempertahankan distingsi
antara pengetahuan sehari-hari dan pengetahuan ilmiah sedangkan Gadamer lebih pada mempersoalkan metode
dihadapan kebenaran pengetahuan.[24] Pada hermeneutik baisa ini Habermas menunjukkan
batasan-batasan yang ada pada hermeneutik tersebut, yakni pada sistem-sistem
bahasa sains dan dalam teori-teori pilihan rasional.[25] Hermenetik
biasa tidak sampai pada bahasa ilmu-ilmu alam melaikan hanya sebagai pemahaman
akan teks tersebut tanpa mengoreksi atau menganalisis teks. Selain itu, hermeneutik
biasa juga sulit dalam memahami teks abnormal. Meneurut Habermas sendiri teks
abnornal dapat terjadi akibat dari kasus psikopatologis, kasus perilaku
terindokrinasi, dan komunikasi yang terdistorsi secara sistematis.
Batasan-batasan hermeneutik biasa ini ditujukan pada gagasan Schleiermacher samapai
pada Gadamer. Pada hermeneutik biasa tersebut Habermas mengkritik pendirian
Gadamer tentam klaim universalitas hermeneutik dengan menunjukkan batas-batas
hermeneutik Gadamer pada bahasa monologal ilmu-ilmu alam dan pada komunikasi
yang terdistorsi secara sistematis.
5.2 Hermeneutik Kritis
Kritik
Habermas terhadap
Gadamer menjadi dasar bahwa Habermas
memiliki pengertian tersendiri tentang hermeneutik. Bagi Habermas, hermeneutik biasa yang dikembangkan
dari Schleiermacer samapai pada Gadamer menemui batasnya ketika harus
berhadapan dengan komunikasi yang terdistorsi secara sistematis, sedangkan hermeneutik kritis ialah
sebuah hermeneutik khusus yang harus dijalankan. Hermeneutik kritis dapat
digambarkan sebagai sebuah metode ilmiah untuk memahami struktur-struktur makna
atau teks yang terungkap dalam tuturan yang dihasilkan oleh suatu proses
komunikasi yang terdistorsi secara sistematis.[26]
Dalam hermeneutik kritis ini, Habermas
membagi kedalam dua tipe dalam pelaksanaanya, yaitu: psikoanalisis Freud dan
kritik ideologi Marx,
sebab ia menyatakan bahwa psikoanalisi ataupun kritik ideologi ini mampu
menghadapai suatu teks yang tidak lazim, karena susunan-susunan makna yang
tertulis merupakan hasil distorsi sistematis yang tidak disadari oleh para
penulisnya sendiri. Hermeneutik kritik menurut Habermas bahwa memahami tidaklah sekadar
memproduksi makna yang ditulis oleh Penulis,
dan tidak sekadar memproduksi makna baru yang terarah pada masa depan.[27] Namun
membebaskan Penulis
dari komunikasi yang terdistorsi secara sistematis yang telah menghasilkan
teksnya. Habermas memahami
bukan sekedar melibatkan dimensi kognitif manusia, melainkan juga keseluruhan
dimensi praktisnya, khususnya dimensi sosial. Kebebasan akan membebaskan
praktik hidup agar sesuai dengan kebenaran. Bagi Habermas teks yang dihadapai
oleh psikolog atau psikiater berbeda dengan naskah-naskah kuno yang dihadapi
seorang filolog. Perbedaan teks tersebut menjadi sebuah masalah sebab makna
dari teks tersebut berbeda, akibatnya teks tersebut sulit untuk dipahami. Kesulitan
tersebut tidak dapat hanya diatasi dengan menggunakan kamus saja, melainkan
Hermeneutik kritis yang mengabil peran dalam kesulitan tersebut. Hermeneutik
kritis lebih melihat masalah pada teks yang ditulis oleh Penulis. Sebab meneurut
Habermas kemungkinan dapat terjadi kesalahan dalam tulisan yang diakibatkan
oleh kerusakan pikiran atau tulisan tersebut ditulis dengan tidak sadar atau di
bawah ancaman. Oleh karena itu, Habermas menjelaskan bahwa keseluruhan makna
yang termuat di dalam teks tersebut mengalami kerusakan dari dalam. Maka,
seorang penafsir perlu mengetahui seberapa besar kerusakan tersebut. Menurut Habermas
suatu teks mengungkapkan sebuah komunikasi yang telah terdistorsi secara
sisitematis dalam tiga lapisan yakni, pada lapisan simbol-simbol bahasa
komunikasi yang terdistorsi itu kelihatan memakai aturan-aturan yang menyimpang
dari bahasa umum. Sedangkan pada lapisan perilaku suatu language game yang terdistorsi kelihatan dari kekakuan dan repetisi
kompulsif dan yang terakhir ketika melihat sistem komunikasi terdistorsi itu
sebagai keseluruhan, kesenjangan yang ada diantara berbagai lapisan komunikasi
tampak jelas, seperti pada konkruensi lazim antara simbolisme bahasa,
tindakan-tindakan dan ungkapan-ungkapan yang telah hilang.[28] Hal
ini menunjukkan bahwa terjadi ketidak sadaran Penulis dan kekacauan teksnya.
Hal ini juga menjadi kritik Habermas pada hermeneutik biasa yang dikembangkan
oleh Dilthey dan Gadamer yang hanya berfokus pada kekaburan teks, tetapi tidak
sampai mencurigai bahwa ada kaitan antara kekaburan teks dengan gangguan
kesadaran Penulis. Hermeneutik kritis melampaui hermeneutik biasa dalam artian
bahwa metode hermeneutik kritis berupaya untuk menemukan motif yang tidak
disadari oleh Si Penulis. Untuk mampu menemukan masalah tersebut dibutuhkan
metode versthen dan Erklaren. Metode ini memiliki dua cara
yakni, merekonstruksi teks dan mendorong refleksi penulisnya. Hal ini dilakukan
agar mampu melakukan interpretasi dan menganalisis mengapa teks tersebut dapat
dihasilkan. Dalam hermeneutik kritis, memahami bukan tugas seorang pembaca,
melainkan juga tugas Penulis. Oleh sebab itu, Habermas menyatakan bahwa tugas
hermeneutik kritis tercapai bila pemahaman bagi penafsir juga merupakan
pemahaman bagi Penulis.[29]
Maka dari itu, pada psikoanalisis, seperti kritik ideologi merupakan sebuah
analisis sekaligus refleksi kritis yang meneurt Habermas sendiri digerkan pada
kepentingan emansipatoris.
BAB
III
REFLEKSI
KRITIS
1.
Analisis Pandangan Jurgen Habermas
1.1 Pandangan tentang memahami dalam hermeneutik kritis
Habermas
Pendapat Habermas tentang memahami cukup masuk akal,
sebab dengan memahami seseorang barulah mampu untuk menjelaskan dari apa yang
dia pahami. Konsep Habermas tentang memahami yang berfokus pada pemahaman yang
berasal dari diri menjadi bagian terpenting untuk menafsirkan sesuatu dan dalam
memahami kosep Habermas tidak perlu terlalu memperhatikan konteks atau tradisi,
dan aturan yang berlaku secara umum serta sistematis. Namun, dalam kosep Habermas
tentang memahami tidak harus selalu berpatokan pada konteks atau tradisi, dan
aturan yang berlaku secara umum dan tersistematis kurang tepat sebab, memhami
diri seutuhnya dengan refleksi tidaklah cukup. Menurut Penulis, konteks atau
tradisi dan aturan yang berlaku secara umum dan sistematis merupakan salah satu
pendukung seseorang dalam hermeneutik. Jika seseorang mampu memahami dirinya
dalam hermeneutik sangat baik. akan tetapi, sebuah hermeneutik dilakukan demi
tujuan kedepan dan bukan hanya sekadar untuk memahami saja. Padangan Habermas
akan hermeneutik cukup menarik bagi Penulis, dikarenakan pandangan hermeneutik
Habermas juga memasukkan refleksi akan diri sendiri menjadi salah satu cara
dalam memahami, yang dia sebuat juga sebagai yang membebasakan. Pengertian Habermas
ini dapat dikatakan cocok dalam konteks penafsiran kitab suci. Untuk menegrti
dan mampu memahami isi kitab suci tersebut (Firman Tuhan) seseorang perlulah
merefleksikannya agar apa maksud dari Firman itu dapat dikenal dengan baik,
sebab makna dan nilai pada bahasa yang ada di dalam isi kitab suci tersebut
bukan sekedar apa yang tertulis. Pemahaman Habermas akan hermeneutik kritis ini
mengajak seseorang masuk ke dalam diri sendiri untuk merefleksikan dirinya sendiri.
Dengan refleksi diri ini Habermas mengharapkan akan ada dalam diri suatu
kebebasan. Kebebasan yang dimaksud oleh Habermas ialah keadaan diri yang secara
penuh sadar akan apa yang dialami dalam kehidupan.[30]
Sebab ada kalanya seseorang membuat suatu teks atau memahami suatu teks,
seseorang tersebut berada dalam suatu tekanan seperti paksaan dari orang lain
atau mengalami ganguan seperti terindokrinasi. Sehingga teks yang ditafsir atau
yang dibuat menjadi tidak jelas dan kabur.
1.2 Analisis
Pemikiran Habermas dengan Pemikiran Filsuf lain.
Sejak awal Habermas tidak secara langsung membahas pokok
pikirannya tentang hermeneutik. Tetapi pemikiran hermeneutik Habermas muncul
melalui kritik-kritik yang ia sampaikan kepada beberapa tokoh hermeneutik
seperti Hegel, Karl Marx, dan Gadamer. Melalui kritik-kritik tersebutlah Habermas
membut pengertian tersendiri yang menurutnya lebih tepat. Kritik-kritik Habermas
tersebut juga menjadi kekhasan dari hermeneutik Habermas dapat terlihat. Salah
satu kritik Habermas pada Gadamer ialah pendapat Gadamer yang menyatakan bahwa
prasangka dan otoritas tidak dapat sama sekali dibersihkan dari pemahaman teks
karena upaya pembersihan itu sendiri adalah sebuah prasangka. Sebaliknya
prasangka dan otoritas justru merupakan komponen-komponen yang memungkinkan
pemahaman teks, maka tugas pembaca adalah membedakan antara prasangka yang
legitim dan yang illegitim.[31]
Pendapat Gadamer tersebut menyakan bahwa pada suatu teks pastilah terdapat
pemahaman prasangkan dan otoritas. Habermas menolak pendapat ini sebab tidak
semua teks terdapat prasangka dan otoritas, sebab ada juga teks yang
sungguh-sungguh terlepas dari prasangka dan otoritas yakni teks yang dihasilkan
oleh seorang yang mampu menjadi bebas dalam dirinya. Menurut Habermas, Gadamer
terlalu fokus pada proses pemahaman dan mengabaikan fakta bahwa pemahan juga
dapat dikendalikan oleh tujuan dan proses-proses kekuasan.[32] Namun
sebenarnya pendapat Habermas mirip dengan pendapat Gadamer. Habermas menyatakan
bahwa dalam pemahaman ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni refleksi
diri sendiri, situasi penulis teks, bahasa dalam teks. Tanpa disadari oleh Habermas
sebenarnya ia juga membuat suatu prasangka dan otoritas pada suatu teks dengan
mencurigai suatu teks dari Si Penulis. Di satu sisi pendapat Gadamer dapat
dibenarkan yang menyatakan bahwa suatu bahasa yang berpegang teguh pada
pendirian saja akan menjadikan suatu bahasa tersebut sebagai “alat” saja.[33]
Bagi Gadamer bahasa memang suatu sarana alat komunikasi antarmanusia. Namun,
bahasa merupaka sarana komunikasi bukanlah makna yang terdalam dari suatu
bahasa.
Sebagian besar titik tolak pemikiran Habermas berasal
dari Karl Marx.[34]
Sebab pemikiran Habermas bertitik pangkal pada gagasan Marx tentang teori
kritis. Namun Habermas juga mengkritik teori Marx, dengan menuduh bahwa pemikiran
Marx berdimensi satu. Ia memahami semua hubungan anatarmanusia menurut pola
pekerjaan. Sedangkan pekerjaan itu sendiri adalah sebuah tindakan sepihak,
dimana tindakan yang aktif akan menguasa tindakan yang pasif. Jadi, menurut Habermas
pekerjaan bukanlah suatu tindakan dialogis, melainkan pekerjaan itu sebuah sikap tepat terhadap alam. Karena itu Habermas
berkesimpulan bahwa pekerjaan tidak tepat sebagai kerangka pengertian bagi
hubungan antarmanusia. Jadi, siapa yang memahami hubungan anatarmanusia sebagai
pekerjaan, memahaminya sebagai hubungan kekuasaan.[35]
2.
Kaitan Pemikiran Habermas Dengan Mata Kuliah Logika dan
Bahasa.
Pada mata kuliah logika dan bahasa dikatakan bahwa bahasa
adalah salah satu produk paling besar manusia. Bahasa yang itu diciptakan dan
dilahirkan oleh manusia, dan pada akahirnya bahasa itu sendiri dapat membentuk
manusia serta tanpa bahasa, secara praktis isi produk-produk dari kegiatan
manusia tidak akan mungkin terwujud. Pemahaman tersebut terbukti benar sebab
bahasa menjadi sarana seseorang untuk menjalin relasi dengan sesama. Dapat
dikatakan bahwa bahasa merupakan hal yang sangat vital dalam diri setiap
manusia. Bahasa yang juga ambil peran dalam pembentukan pribadi manusia, hal
tersebut dilihat dari beberapa tokoh filsafat yang dibahas pada paper ini. Dalam
gagasan hermeneutik kritis Habermas sangat menekankan pemahaman diri dan dan Si
Penulis teks. Dalam sebuah teks yang hendak ditafsirkan diperlukan
memperhatikan pribadi dari Si Penulis teks tersebut sebab menurut Habermas
seseorang yang menuliskan teks harus menggunakan bahasa yang tepat sehingga
maksud dari Penulis dapat dipahami oleh seseorang yang menafsirkan. Dengan
demikian, diperoleh suatu kesepahaman bersama. Teks yang baik merupakan salah
satu penilaian bahwa pikiran dan daya nalar Si Penulis juga baik. maka dari
itu, pendapat Habermas dengan materi mata kuliah dapat menjadi akaurat
kepastiannya, yakni penggunaan bahasa harus digunakan secara cermat, logika
yang menyibukkan diri dengan fakta diharapkan menyibukkan diri dengan
menggunakan bahasa yang tepat dan kesesatan bernalar dapat terjadi karena
penggunaan bahasa yang tidak tepat serta penggunaan bahasa yang tidak netral
dari subjek tersebut.
3.
Relevasi Pemikiran
Habermas bagi Penggunaan Bahasa Pada Zaman ini.
Salah satu pemikiran Habermas yang menarik untuk
kehidupan masa kini adalah dalam konsep memahami Habermas didasari oleh kritik-ideologis
merupakan praksis pembebasan dari kesepahaman semu hasil dominaasi untuk
mencapai kesepahaman rasional yang bebas dominasi. Di masa ini, orang begitu
mudah dan gampang dalam menegeluarkan pendapatnya tentang suatu, berkomentar
tentang suatu, menuliskan sesuatu dan ide tentang seseuatu. Segala yang
dilakukan tampak begitu mudah bahkan kadang-kadang tidak bertanggung jawab atas
apa yang dikatakan dan dituliskan. Untuk masa ini, Penulis berpendapat bahwa
pemikiran Habermas sangat cocok diterapkan pada zaman ini, yakni untuk memahami
perkataan, terutama memhami suatu teks berita atau teks apapun, seperti buku atau opini, seseorang pertama-tama
memahami diri dengan refleksi diri. Setelah menyadari diri dengan sungguh (mencapai
kesepahaman yang rasional yang bebas dominasi) barulah melihat teks atau
argumen dan melihat Si Penulis dan Si Pemberi argumen atau pendapat dengan
kritis apakah tersebut argumen dikendalikan oleh proses-proses kekuasan atau
dalam kondisi adnormal. Menurut Si penulis, argumen Habermas tersebut sangat
dibutuhkan pada masa ini. sebab dimasa ini banyak juga terjadi
kejadian-kejadian atau masalah-masalah yang diakibatkan oleh kesalahan paham
atas kenyataan atau realitas secara khusu dalam memahami suatu tulisan atau
naskah. Sebagai contoh kelompok isis yang melakukan pemberontakan dan
pembantaian yang disebabkan oleh paham yang dianut oleh kelompok tersebut dan
paham mereka dianggap suatu kebenaran yang pasti, sebab paham terdapat pada
kitab suci mereka. Salah satu contoh yang disampaikan oleh Habermas adalah
kasus perilaku terindokrinasi. Hal yang terpenting pada masa kini bagaimana
seseorang memahami atas apa yang terjadi atau realitas itu sendiri dengan
memahami bahasa yang digunakan seseorang. Di Indonesia, ada banyak ragam bahasa
dan lambang-lambang yang memiliki makna tersendiri bagi penganutnya. Untuk
mengurangi kesalah pahaman atas bahasa-bahasa dan lambang tersebut dibutuhkan
pemahaman diri yang cukup baik dan juga perlu memperhatiakan ruang dan waktu
yang terjadi.
4.
Relevansi Pemikiran Habermas Bagi Penulis Sebagai Calon
Imam.
Penulis, pada saat ini sedang menjalani masa pembinaan
sebagai seorang calon imam. Oleh karena calon imam, tugas dari seorang imam
kelak (bisa juga mulai saat ini), yakni mewartakan kabar gembira kepada semua
orang dengan Kitab Suci sebagai sumber utama. Sebagai seorang pewarta kabar
gembira tentu berbagai cara yang baik dilakukan demi sampainya kabar gembira
tersebut kepada semua orang seperti berkatekese, berkotbah, homili, dan membuat
sebuah tulisan-tulisan atau buku atau sejenisnya. Semua itu merupakan cara dari
pewartaan kabar gembira tersebut. Namun cara pewartaan tersebut dapat terhalang
oleh bahasa yang digunakan dari Penulis tersebut tidaklah tepat dan baik
apalagi bahasa yang digunakan itu salah dan yang terlebih parah lagi memahami
sebuah teks-teks secara khusus teks Kitab Suci dengan tidak tepat atau tidak
benar. Maka pewartaan tersebut tidak akan sampai pada setiap orang. Oleh karena
itu, melalui tokoh Habermas tersebut, Penulis mengambil suatu nilai bagi
dirinya dalam pewartaan, yakni memahami suatu bahasa yang terdapat pada teks
Kitab Suci dan merefleksikannya dan merenungkan dengan sebuah dialog dengan
Tuhan, sehingga saya sungguh memahami teks Kitab Suci tersebut. Dengan demikian,
Penulis paham akan apa yang diwartakan kepada orang lain. Dengan pemahaman yang
baik itu pula, Penulis diharapkan mampu membahasakan lebih baik apa yang
dipahami oleh Penulis tentang teks Kitab Suci tersebut. Habermas menyatakan
bahwa bila seseorang tidak paham akan apa yang dipahami, akan sulit juga
seseorang tersebut menyampaikan apa yang dipahaminya kepada orang lain. Hal
seperti itu disebut oleh Habermas adalah kerusakan bahasa atau bahasa yang
kabur. Pandangan Habermas tidak cocok dalam ajaran agama katolik (terutama
penulis sebagai calon imam) sebab, pandangan Habermas tentang memahami sebagai
membebaskan. Membebaskan dalam konsep Habermas bahwa dalam memahami sebuah teks
atau naska tidak berada dalam otoritas tertentu melainkan kebebasan subjek.
Sedangkan penulis harus senantiasa berada dalam ajaran paus terutama peneulis
harus senantiasa mengatas namakan pewartaan demi nama Yesus Kristus. Ini
menjadikan bawa penulis berda dalam otoritas dengan pemimpin paus sebagai wakil
Kristus. Oleh karena itu, penulis tidak
menganut atau mengambil gagasan Jurgen Habermas secara menyeluruh melainkan
hal-hal yang yang dibenarkan oleh gereja katolik saja seperti refleksi dengan
suatu dialog dalam menafsirkan naska atau teks (secara khusus Kitab Suci).
BIBLIOGRAFI
Bertens, K. Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman.
Jakarta: Gramedia, 1981.
Chaer, Abdul. Filsafat Bahasa. Jakarta: Rineka Cipta,
2015.
Hadirman, F. Budi. Seni Memahami. Yogyakarta: Kanisius,
2015.
Sumaryono, E. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat.
Yogyakarta: Kanisius, 1999.
Suseno, Franz M. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis.
Yogyakarta: Kanisisus, 1992.
Soekanto,
Soerjono. Teori Sosiologi Tenteng Pribadi
Dalam Masyarakat. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia, 1982.
Shadily, Hassan. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia.
Jakarta: Bina Aksara, 1983.
[1] Soerjono
Soekanto, Teori Sosiologi Tenteng Pribadi
Dalam Masyarakat (Jakarta Timur: Ghalia Indonesia, 1982), hlm. 8.
[3]
Abdul Chair, Filsafat Bahasa (Jakarta:
Rineka Cipta, 2015), hlm. 175.
[8]
Wilhelm Cristian Ludwig Dilthey ( 1833-1911) adalah seorang yang terpelajar dalam keluarga
protestan Jerman. Dia dilahirkan di kota Biebrich
di tepi sungai Rhain dekat kota Mainz pada
tanggal 19 November 1833.
[11] Geisteswissenschaften adalah istilah Jerman yang diterjemahkan oleh
Dilthey menjadi ilmu-ilmu sosial kemanusian.
Geisteswissenschaften yaitu semua ilmu-ilmu sosial, semua disiplin yang
menafsirkan ungkapan-ungkapan kehidupan batiniah manusia, entah ungkapan itu
berupa gestur-gestur, tindakan-tindakan historis, hukum yang terkodifikasi,
karya-karya seni atau kesusastraan.
[13] E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah
Metode Filsafat ..., hlm. 93.
[17] E.
Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode
Filsafat ..., hlm. 95.
[19] Kerja adalah proses atau
sintesis yang terdapat
pada manusia dan alam [Lihat Franz
M. S. Filsafat sebagai ilmu krtis,
hlm. 213].
[32] F.
Budi Hadirman, Seni Memahami ...,
hlm. 214.
[33] K.
Bertens, Filsafat Barat Abab XX ..., hlm. 232.
[34] Paham
pemeikiran Karl Marx adalah paham sebuah teri kritis, yakni dimana sebuah teori
yang sebgai teori, sebagai kritik ideologi, menjadi praksis dan berdampak pada
emansipasi pada masyarakat.