Minggu, 15 September 2019




PANDANGAN HABERMAS PERIHAL HERMENEUTIK

BAB I

PENDAHAHULUAN



1. Latar Belakang Pembahasan

                 Manusia adalah mahluk sosial.[1] sebagai mahluk sosial, manusia menjalin suatu hubungan atau interaksi dengan yang lain. Manusia mempunyai kemampuan interaksi dengan mahluk yang lain dengan perantaraan lambang-lambang yang menjadi kunci untuk memahami kehidupan sosial manusia. Lambang-lambang yang digunakan oleh manusia dalam berinteraksi tersebut salah satunya adalah bahasa. Menurut Mead menyatakan bahwa lambang-lambang, terutama bahasa, tidak hanya merupakan sarana komunikasi antarpribadi, tetapi juga untuk berpikir. Menurut catatan ilmu–ilmu masyarakat tidak ada dikenal suatupun masyarakat manusia di dunia ini, yang tidak mempergunakan bahasa.[2] Maka, bahasa menjadi bagian hal terpenting dalam manusia, terutama dalam komunikasi. Memahami suatu taks-teks atau naskah juga merupakan suatu komunikasi. Memhami suatu teks-teks atau naskah merupakan cara untuk memperoleh infomasi dari yang lain. Dengan memahami teks-teks atau naskah tersebut seseorang mencoba menemukan maksud atau nilai yang terdapat pada pada teks atau naskah tersebut. Oleh karena itu, memahami bahasa yang ada pada teks atau naskah merupakan salah satu gagasan Jurgen Habermas dalam hermeneutik kritisnya. Maka, pembahasan yang hendak disampaikan pada paper ini adalah bagaimana memahami teks atau naskah dalam sebuah hermeneutik kritis terutama berdasarka pokok pikiran Jurgen Habermas.  


2. Perumusan Masalah

                 Dalam berinteraksi, manusia mengunakan bahasa sebagai sarana untuk saling mengenal sekaligus dalam menjalin sebuah relasi. Namun bahasa bukan semata-mata apa yang dikatakan atau suara yang keluar dari mulut, melainkan bahasa adalah serangkaian simbol-simbol yang dapat dipergukan untuk mengkomunikasuatu gagasan, pendapat atau perasaan seseorang terhadap yang lain. Serangkain simbol-simbol tersebutlah yang disusun menjadi suatu yang koheren atau satu kesatuan untuk menyampaikan suatu maksud. Dalam bahasa ini, yang hendak dibahas pada hermeneutik atau menafsirkan sebuah teks. Dalam sebuh teks tersebut, hendak dicapai apa yanng menjadi maksud atau nilai dari teks tersebut sehingga teks tersebut dapat dipahami dengan baik, sesuai dengan maksud dari si penulis teks. Berkaitan dengan memahami teks tersebut tentulah yang menjadi pokok bahasan adalah bagaimana memahami bahasa yang terdapat pada teks tersebut. Oleh karena itu, pemahaman tentang suatu bahasa sangat berperan andil dalam menafsirkan bahasa pada teks. Pada paper ini, penulis menspesifikkan yang hendak dibahas, yakni pemahaman bahasa yang terdapat pada teks, sehingga teks tersebut mampu dipahami. Oleh karena itu, penulis akan membahasa penafsiran suatu teks berdasarkan teori atau gagasan dari Jurgen Habermas. Jurgen Habermas ini di anggap sebagai seorang filsuf hermeneutik kritis dari kewarganegaraan Jerman. Gagasan Habermmas tentang menafsirkan suatu teks dalam konteks pemahaman akan bahasa pada teks yang hendak ditafsirkan.  


3. Tujuan Pembahasan

                 Dalam pokok bahasa hermeneutik kritis oleh Habermas terhadap suatu pemahaman akan bahasa yang ada di dalam suatu teks menjadikan orang paham akan teks tersebut. Maka dari itu, yang menjadi tujuan dari pemahaman bahasa pada teks atau naskah dalam rana penafsiran, yaitu:

       a.            Mampu memahami bahasa pada suatu teks atau naskah berdasarkan gagasan Jurgen                                                                          Habermas.

      b.            Mengenal dan memahami hermenutik krits oleh Jurgen Habermas.

       c.            Mampu memahami dan membedakan jenis hermeneutik berdasarkan Jurgen Habermas.

      d.            Mengembangkan wawasan tentang bahasa dalam sebuah hermeneutik.

       e.            Mampu mengambil nilai yang baik dari tokoh yang dibahas untuk kehidupan sehari-hari.

       f.            Memenuhi tugas logika dan bahasa yang diberikan oleh RD. Antonius Moa.









BAB II

POKOK PEMIKIRAN JURGEN HABERMAS



1.      Hidup dan Karya-Karya Jurgen Habermas

Jurgen Habermas lahir pada tanggal 18 juni 1929 di Gummersbach. Ayahnya adalah seorang direktur kamar dagang dan industri di kota Gummersbsch. Habermas belajar kesusastraan jerman, sejarah, filsafat, ilmu bidang psikologi, dan ekonomi di Universitas kota Gottingen. Kemudian ia melanjutkan studi filafat di Universitas Bonn dan meraih gelar filsafat tahun 1954. Pada tahun 1956, Habermas bergabung dengan Lembaga Penelitian Sosial di Frankfurt dan menjadi asisten Andorno. Habermas juga mengikuti suatu proyek riset mengenai sikap politik mahasiswa-mahasiswa di Universitas Frankfurt. Ia mengerjakan segi teoritis dan hasil penelitiannya terdapat dalam buku Student und Politik (Mahasiswa dan Politik). Selain itu, Habermas juga mempersiapkan habilitationsschriftnya. Karangan ini berjudul struktur wandel der oeffentlichkeit (perubahan dalam struktur pendapat umum) yang berisi suatu studi yang mempelajari sejauh manakah demokrasi masih memungkinkan ada pada masyarakat industri modern. Namun, habilitationsschrift tersebut tidak dapat dilaksanakan di kota Frankfurt. Oleh karena itu, ia mencari seorang promoter di tempat lain, dan akhirnya berhasil di Marburg. Pada tahun 1964, Habermas kembali ke Frankfurt sebagai profesor sosiologi dan filsafat untuk menggantikan Horkheimer. Habermas juga pernah menerima tawaran untuk menjadi direktur dari Max Planck di Starnberg yang mempelajari kondisi-kondisi dalam kehidupan dunia ilmiah-teknis. Habermas telah menulis sejumlah buku. Gagasannya mengenai hermeneutik dan bahasa termuat dalam bukunya yang bejudul Knowledge and Human Interest. 


2. Latar Belakang Pemikiran Hermeneutik Habermas

Pandangan Habermas tentang hermeneutik tidak disampaikan secara khusus namun Habermas dapat dikatakan salah seorang hermeneutik karena gagasan-gagasannya mendukung pustaka hermeneutik. Menurut Habermas antara penjelasan dan pemahaman memiliki konsep yang berbeda. Ia berpendapat bahwa suatu penjelasan menuntut penerapan preposisi-preposisi teoritis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis.[3] Penjelasan yang dimaksud Habermas adalah sesuatu yang telah kita pahami secara teoritis melalui preposisi yang diperoleh terhadap keadaan fakta atau realita. Sedangkan memahami menurut Habermas adalah suatu kegiatan dimana pengalaman dan pengertian teoritis berpadu menjadi satu. Suatu pemahaman berarti antara preposisi-preposisi teoritis disatukan dengan pengalaman sehingga pengertian yang teoritis tersebut sesuai dengan pengalaman fakta atau realita yang dialami. Konsep Habermas pada penjelasan tersebut mendekati suatu metode ilmiah seperti dalam metode penguasaan bahan dan metode pemikiran apriori karena konsep tersebut berpuncak pada keyakinan-keyakinan yang valid dan defenitif.[4] Titik berangkat gagsan Habermas terhadap hermeneutik ialah prinsip-prinsip penjelasan dan pemahaman.

2.2. Metode Memahami

Habermas menegaskan bahwa tidak semua hal dapat dipahami sepenuhnya makna akan suatu fakta dengan baik sebab ada juga fakta yang tidak dapat diinterpretasikan. Oleh sebab itu, kita tidak mungkin menerangkan hal-hal yang yang tidak dapat dipahami bahkan kita juga tidak dapat menginterpretasikan hal-hal tersebut. Habermas menegaskan juga bahwa suatu penjelasan haruslah berupa penerapan secara obyektif suatu hukum atau teori terhadap realita. Pemahaman menjadi bagian subjektif sebab pemahaman melibatkan interpreter. Habermas berpandapat bahwa pemahaman hermeneutik kritis sedikit berbeda dengan pemahaman hermeneutik biasa, sebab pemahaman hermeneutik biasa diarahkan pada suatu konteks tradisional tentang makna. Pemahaman tersebut oleh Habermas disebut sebagai pemahaman monologis atas makna, yaitu pemahaman yang menyangkut hubungan-hubungan faktual tetapi menyangkut bahasa-bahasa murni, seperti bahasa simbol.[5] Bagi Habermas hermeneutik adalah pemahaman tentang makna yang mampu mengartikan hubungan simbol-simbol sebagai hubungan anatarfakta yang ada.[6] Hermeneutik yang dimaksud oleh Habermas tidak sebatas pemahaman monologis, yang pemahaman-pemahannya atas simbol-simbol yang menyangkut bahasa murni, karena simbol-simbol mempunyai makna yang defenitif, sebagaimana ketetapan pada rumusnya. Dengan demikian, pikiran monologika adalah suatu jalan pemikiran yang terstruktur, yang mengikuti sesuatu hukum dengan segala ketentuan dan keharusannya. Pemahaman monologis dapat dilogikan pada ilmu alam sedangkan hermeneutik itu sendiri lain sisi tidak selalu menyangkut analisis struktur dari objeknya. Sebab jika hermeneutik hanya berfokus pada suatu analisis struktur terhadap objeknya, maka hermeneutik akan mempersempit makna dari suatu tafsiran terhadap objek tersebut.

            2.3. Jenis Pemahaman

Melalui metode pemahaman yang diutarakan oleh Habermas, ia menyatakan bahwa hermeneutik biasanya mencoba menerangkan yang individual bukan yang universal. Namun yang universal merupakan salah satu cara untuk menerangkan yang individual. Proses tersebut dapat terjadi atas dasar asimilasi transendental apriori dari pengalaman yang mungkin dengan ungkapan universal bahasa-bahasa teoritis.[7] Pemahaman hermeneutik Habermas melibatkan tiga jenis ekspresi kehidupan, yaitu: linguistik, tindakan dan pengalaman. Mengenai linguistik, Habermas berpendapat bahwa ekspresi atau ungkapan dapat dipisahkan dari konteks kehidupan konkret apabila tidak berkaitan dengan bagian-bagian khusus pada konteks tersebut. Jadi ekspresi linguistik tersebut bersifat absolut yang menggambarkan pemahaman monologis. Pada pemahaman ini muncul suatu masalah antara apa yang diungkapkan dengan apa yang dimaksudkan, apabila tidak ada interpretasi kerja atau hermeneutik. Kemudian melalui tindakan atau kegiatan dapat terjadi melalui sebuah komunikasi. Hal inilah yang membantu pemahaman linguistik, yakni suatu penjelasan yang diarahkan pada tujuan akhir, seperti maksud dan ruang lingkup dari tindakan tersebut. Pada ekspresi pengalaman, yang utama pada bagian ini adalah reaksi tubuh manusia yang berupa kecenderungan yang tidak dinyatakan atau sebagai ungkapan nonverbal, serta seorang intrepreter menjadi penentu dari suatu pemahaman.

Ketiga pemahaman tersebut berasal dari Dilthey[8] yang kemudian dikutip oleh Habermas sebab menurut Habermas ketiga jenis pemahaman hermeneutik tersebut suatu integrasi atas ungkapan suatu kehidupan. Jadi, pada hermeneutik akan tampak kombinasi antara bahasa, tindakan, dan pengalaman, serta usaha dalam membuat interpretasi.[9]

            2.4. Dilema Pemahaman

Habermas menyatakan bahwa sebagai suatu seni yang menggambarkan seni komunikasi tidak langsung tetapi dapat dipahami, hermeneutik berhubungan dengan jangkauan yang harus dicapai oleh subjek dan pada saat itu pula diungkapkan kembali sebagai identitas struktur yang terdapat di dalam kehidupan, sejarah, dan objektivitasnya. Di sini hermeneutik menghadapi dilema antara tetap objektif dan bersifat subjektif, atau anatara tetap subjektif dan harus menjadi objektif.[10] Dilema ini semakin tampak dalam ilmu-ilmu pengetahuan tentang hidup atau geisteswissenschaften[11] dan itu muncul pada pertanyaan dalam eksklusif linguistik atau analisa empiris. Pada dilema memahami tidak ada tempat disjungsi, sebab seseorang tidak dapat malakukan analisis linguistik eksklusif atau analisis empiris murni. Bagi Habermas pemahaman merupakan suatu kombinasi antara analisis linguistik eksklusif dengan analisis empiris murni. Oleh sebab itu, sebuah interpretasi tergantung pada hubungan timbal balik antara pemahaman atas bagian-bagian yang merupakan keseluruhan yang terdiri dari campur macam-macam hal yang sudah diketahui sebelumnya dan koreksi terhadap apa saja yang pada suatu saat dirasakan tidak sesuai lagi. Habermas meneruskan tugas Dilthey[12] dengan menyatakan bahwa Dilthey telah mengikuti logika penyelidikannya sendiri dan melihat bahwa objektivitas pemahaman hanya mungkin bila interpreter atau hermeneutik menjadi partner dalam dialog komunikatif. Jadi hermeneut harus menghadapi interaksi, anatara yang umum dan yang individual. Apa yang benar di dalam yang universal tidak secara pasti benar dalam yang individual atau apa yang benar di dalam individual tidak secara tetap juga menjadi benar dalam universal. Perbedaan antara ilmu-ilmu alamiah dan ilmu-ilmu kemanusiaan terlihat jelas. Berdasarkan ilmu alam, apa yang benar secara individual akan benar pula secara umum melalui proses induksi. Induksi ialah suatu kebenaran umum akan diperoleh dengan menentukan kebenaran yang terdapat pada hal-hal tunggal dan individual. Sedangkan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan penjelasan dan interpretasi berlangsung dari yang individual ke individual juga. Pada ilmu-ilmu kemanusiaan jarang terjadi proses dari yang umum ke yang individual atau proses yang individual ke yang umum. Pada dasarnya ilmu-ilmu kemanusiaan tidak mengikuti skema ilmu-ilmu alamiah. Menurutnya suatu proses tertentu mampu memberi kemungkinan hermeneut untuk menentukan kehidupan batin dari hal-hal yang telah diinterpretasikannya. Oleh sebab itu, Habermas berupaya berpaling kepada ‘metode’ lain yang layak untuk diterapkan pada geisteswissenschaften. Habermas menyadari akan kesulitan yang dihadapi oleh para interpreter jika mereka juga harus menanggung beban analisis empiris, padahal ilmu pengetahuan hermeneutik bekerja pada tingkatan tindakan komunikatif.[13] Dengan demikian Habermas menyatakan bahwa pada saat interpreter membuat analisis, ia tetap pada tingkatan tindakan komunikatif, sehingga analisisnya akan bersifat dialogal. Meneurut Habermas ada interaksi antara bahasa, tindakan dan pengalaman. Akan tetapi, bagi Habermas bahasa dan pengalaman tidak menjadi syarat yang utama bagi suatu tindakan dalam konteks tindakan komunikatif. Sebab baginya bahasa dan pengalaman harus masuk pada dialektik dengan tindakan.[14] Jadi, apabila seseorang hendak membuat interpretasi yang benar dan tepat, ia harus mengusahakan dialog antara bahasa dan pengalaman di satu sisi dengan tindakan di sisi lain. 


3. Hubungan antar Bahasa, Pengalaman dan Tindakan

Dalam buku yang berjudul The Theory of Communicative, Habermas membagi tindakan menjadi beberapa jenis, yakni:

3.1. Tindakan teologis

Menurut Habermas tindakan teologis merupakan cara mempertahankan tujuan yang khusus. Cara untuk mencapai tindakan ini dibutuhkan sarana yang tepat dan baik yakni dengan membuat keputusan.[15] Untuk melatih tindakan tersebut dibutuhkan suatu model strategi dengan makna untuk memperhitungkan keberhasilan tindakan seseorang, serta antisipasi dari keputusan yang menjadi bagian dalam tujuan yang harus dicapai dari seseorang tersebut. Maka dari itu, yang menjadi konsep utama dari tindakan ini adalah keputusan.

3.2. Tindakan normatif

Yang dimaksud pada tindakan normatif[16] adalah tindakan yang tidak mengutamakan pada tingkah laku aktor soliter(sendiri), namun tindakan ini diarahkan untuk anggota-anggota kelompok sosial. Sebab banyak orang atau anggota-anggota kelompok sosial pada umumnya mempunyai kecenderungan kepada nilai-nilai yang berlaku secara umum sehingga nilai yang berlaku secara umum tersebut menjadi pengukur tindakan dari seseorang atas dasar kelompok. Maka yang menjadi fokus utama dari tindakan ini adalah pemenuhan terhadap norma yang berlaku.

3.3. Tindakan dramaturgik

Pada tindakan ini yang menjadi hal utama bukanlah perseorangan atau anggota-anggota kelompok, melainkan peserta yang bertindak yang ditujukan kepada masyarakat umum atau pendengarnya.[17] Jadi, seseorang mencoba menampilkan diri dalam suatu gambaran penampilannya tersebut. Maka, yang menjadi utama pada tindakan ini adalah penampilan dirinya dihadapan umum atau masyarakat.

3.4. Tindakan Komunikatif

Menurut Habermas tindakan komunikatif adalah suatu tindakan yang mengarah pada interaksi, minimal terdiri dari dua orang yang mempunyai kemampuan berbicara dan bertindak, serta dapat menjalin hubungan antarpribadi baik secara verbal ataupun secara nonverbal. Pada tindakan ini, seseorang mencapai pemahaman terhadap situasi tindakan dan rencana-rencana tindakannya sendiri. Jadi, yang menjadi fokus utama dari tindakan ini adalah sebuah interpretasi. Sebab dalam interpretasi bahasa mendapat tempat yang utama. Namun, untuk mencapai suatu pemahaman dengan perantara bahasa dibutuhkan suatu pengarahan. Pengarahan yang dimaksud oleh Habermas pada tindakan ini adalah pengarahan semacam mekanisme tindakan yang terkoordinasikan. Sehingga dalam menggunakan kosensus tertentu seseorang dapat mengkoordinir dirinya sendiri ke arah tujuan yang hendak dicapai. 


4. Peran Minat Dalam Hermeneutik

Habermas terkenal dengan pandangan tentang minat atau interest. Tentang minat, Habermas berpendapat bahwa minat adalah orientasi dasar yang berakar dalam kondisi fundamental khusus dari reproduksi yang mungkin dan kelangsungan hidup spesies manusia adalah kerja atau karya dan interaksi.[18] Contohnya, sesuatu yang diminati atas dasar pancaindra adalah kesenangandan kegunaan, sedangkan yang diminati atas dasar penalaran adalah masuk akal. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dari hal yang menyenangkan dapat muncul kecenderungan untuk sesuatu yang baik dan masuk akal.

Habermas memasukkan minat pada sebuah hermeneutik karena menurutnya minat dan pengetahuan adalah satu kesatuan dan keduanya berpadu menjadi satu dalam bahasa yang dipakai oleh manusia. Habermas sendiri menyebut pengetahuan tentang minat manusia dengan istilah ersatz. Menurut Habermas ada tiga jenis ilmu pengetahuan yang berkaitan tentang jenis-jenis interst atau minat tertentu yakni, minat instrumental atau mekanis menguasai ilmu-ilmu pengetahuan analisis-empiris, minat praktis mempengaruhi ilmu pengetahuan hermeneutik-sejarah, dan minat dalam emansipasi berhubungan dengan ilmu-ilmu pengetahuan sosial yang berkaitan dengan kritik, atau disebut juga ilmu pengetahuan sosial-kritis. Sasaran yang hendak dicapai pada ilmu pengetahuan sosial-kritis adalah hubungan-hubungan yang terpaku karena penerapan suatu ideologi tertentu dan hungan tersebut dapat dirubah melalui kritik. Habermas meninjau kembali pandangan Hegel dan Kant tentang evolusi. Menurut Habermas, kesadaran kritis harus mengaktifkan diri tampil pada posisi melalui tingkatan-tingkatan refleksi yang dapat disusun dengan pengulangan sistematis pengalaman-pengalaman yang menetapkan sejarah umat manusia. Habermas mewarisi konsep Karl Marx tentang kerja[19] sebagai keberadaan manusia dan tidak terikat pada bentuk-bentuk masyarakat. Maka ia menyatakan bahwa kerja memiliki fungsi sintesis, namun dapat juga dijauhkan dan diasingkan dari manusia. Konsep kerja yang dianut oleh Habermas dari Karl Marx ialah bahwa kerja merupakan syarat keberadaan manusia dan tidak menjadi terikat pada suatu bentuk-bentuk masyarakat yang ada. Oleh sebab itu kerja memiliki fungsi yang sintesis, namun kerja tersebut dapat menjadi bahaya bagi manusia. Pendapat Karl Marx ini juga mendapat kritikan dari Habermas sebab menurutnya Marx telah menipu dirinya sendiri dalam kaitan dengan hakikat refleksi yang ia kembalikan pada kerja, sebab Marx menarik proses refleksi tersebut kepada tingkatan yang instrumental. Marx membahas refleksi berdasarkan model produksi bukan berdasarkan sebagai hubungan dengan pengetahuan. Maka dari itu, Marx tidak membedakan antara ilmu alamiah dengan ilmu pengetahuan atau dengan kata lain Marx menyatukan kedua ilmu tersebut merupakan satu, yang dirangkum oleh ilmu pengetahuan yang lain yang bersifat tunggal.

Menurut Habermas minat yang tertinggi dan dasar dari semua minat adalah minat terhadap diri kita sendiri. Baginya penalaran mempunyai minat praktis yang menjadi milik penalaran itu sendiri, sehingga bila seseorang berefleksi, maka refleksi itu juga merupakan tindakan kebebasan dan emansipasi.[20] Bagi Habermas bila seseorang berefleksi maka seseorang tersebut mempunyai inisiatif “menikam”[21] dirinya sendiri. Dengan demikian Habermas berkesimpulan bahwa refleksi diri merupakan intuisi dan emansipasi sekaligus, pemahaman dan kebebasan dari ketergantungan pada dogma. Minat  mendahului pengetahuan dalam artian bahwa minat merupakan pendorong munculnya pengetahuan dan dalam kaitannya pada proses realisasi pengetahuan memberikan kepercayaan kepada minat. Habermas setuju dengan kritik yang dibuat oleh Sigmund Freud tentang psikoanalisis terhadap makna, refleksi diri dapat bersifat ilmiah.[22] Habermas mengatakan bahwa tata bahasa dari bahasa sehari-hari tidak hanya mengatur hubungan simbol-simbol tetapi menjalin unsur-unsur bahsa, pola-pola tindakan dan ungkapan-ungkapannya. Oleh karena itu, seorang hermeneut harus mampu melihat hubungan-hubungan sesuatu untuk menguraikan suatu misteri yang dihadapinya. Maka, dalam menginterpretasi diperlukan terlebih dahulu suatu refleksi akan dirinya sendiri. Atas pengertian ini, diri sendiri menjadi pangkal tolak suatu interpretasi. Jadi, Habermas ingin mengobjektifikasikan semua hermeneutik yang terlalu subjectif atau mengsubjektifkan semua metode yang terlalu ilmiah, dengan cara menarik kedua hal tersebut menuju refleksi diri dan minat. 


5. Jenis Hermeneutik

Dalam gagasan Habermas, ia membagi paham hermeneutik menjadi dua jenis, yaitu:

            5.1 Hermeneutik Biasa

Salah satu tesis Gadamer adalah bahwa setiap pengetahuan tentang kenyataan , baik itu seni, sejarah atau sains, bertolak dari horizon pemahaman tertentu yang menjadi prapemahamannya, maka semua pengetahuan mangandung masalah hermeneutis.[23] Oleh karena itu bagi Gadamer masalah hermeneutis universal yakni berlaku untuk semua pengetahuan yang tampak di dalam bahasa dan bahasa tersbut yang merangkum semuannya. Pendapat Gadamer terhadap masalah hermeneutik universal tersebut ditentang oleh Habermas sekaligus mengkritik pendapat Gadamer tersebut dengan pandangan hermeneutis kritisnya. Bagi Habermas, hermeneutik yang dipahami oleh Gadamer tidaklah dapat digunakan pada setiap ilmu pengetahuan yang ada. Habermas sendiri mempertahankan distingsi antara pengetahuan sehari-hari dan pengetahuan ilmiah sedangkan Gadamer lebih pada mempersoalkan metode dihadapan kebenaran pengetahuan.[24] Pada hermeneutik baisa ini Habermas menunjukkan batasan-batasan yang ada pada hermeneutik tersebut, yakni pada sistem-sistem bahasa sains dan dalam teori-teori pilihan rasional.[25] Hermenetik biasa tidak sampai pada bahasa ilmu-ilmu alam melaikan hanya sebagai pemahaman akan teks tersebut tanpa mengoreksi atau menganalisis teks. Selain itu, hermeneutik biasa juga sulit dalam memahami teks abnormal. Meneurut Habermas sendiri teks abnornal dapat terjadi akibat dari kasus psikopatologis, kasus perilaku terindokrinasi, dan komunikasi yang terdistorsi secara sistematis. Batasan-batasan hermeneutik biasa ini ditujukan pada gagasan Schleiermacher samapai pada Gadamer. Pada hermeneutik biasa tersebut Habermas mengkritik pendirian Gadamer tentam klaim universalitas hermeneutik dengan menunjukkan batas-batas hermeneutik Gadamer pada bahasa monologal ilmu-ilmu alam dan pada komunikasi yang terdistorsi secara sistematis.

5.2 Hermeneutik Kritis

Kritik Habermas terhadap Gadamer menjadi dasar bahwa Habermas memiliki pengertian tersendiri tentang hermeneutik. Bagi Habermas, hermeneutik biasa yang dikembangkan dari Schleiermacer samapai pada Gadamer menemui batasnya ketika harus berhadapan dengan komunikasi yang terdistorsi secara sistematis, sedangkan hermeneutik kritis ialah sebuah hermeneutik khusus yang harus dijalankan. Hermeneutik kritis dapat digambarkan sebagai sebuah metode ilmiah untuk memahami struktur-struktur makna atau teks yang terungkap dalam tuturan yang dihasilkan oleh suatu proses komunikasi yang terdistorsi secara sistematis.[26] Dalam hermeneutik kritis ini, Habermas membagi kedalam dua tipe dalam pelaksanaanya, yaitu: psikoanalisis Freud dan kritik ideologi Marx, sebab ia menyatakan bahwa psikoanalisi ataupun kritik ideologi ini mampu menghadapai suatu teks yang tidak lazim, karena susunan-susunan makna yang tertulis merupakan hasil distorsi sistematis yang tidak disadari oleh para penulisnya sendiri. Hermeneutik kritik menurut Habermas bahwa memahami tidaklah sekadar memproduksi makna yang ditulis oleh Penulis, dan tidak sekadar memproduksi makna baru yang terarah pada masa depan.[27] Namun membebaskan Penulis dari komunikasi yang terdistorsi secara sistematis yang telah menghasilkan teksnya. Habermas memahami bukan sekedar melibatkan dimensi kognitif manusia, melainkan juga keseluruhan dimensi praktisnya, khususnya dimensi sosial. Kebebasan akan membebaskan praktik hidup agar sesuai dengan kebenaran. Bagi Habermas teks yang dihadapai oleh psikolog atau psikiater berbeda dengan naskah-naskah kuno yang dihadapi seorang filolog. Perbedaan teks tersebut menjadi sebuah masalah sebab makna dari teks tersebut berbeda, akibatnya teks tersebut sulit untuk dipahami. Kesulitan tersebut tidak dapat hanya diatasi dengan menggunakan kamus saja, melainkan Hermeneutik kritis yang mengabil peran dalam kesulitan tersebut. Hermeneutik kritis lebih melihat masalah pada teks yang ditulis oleh Penulis. Sebab meneurut Habermas kemungkinan dapat terjadi kesalahan dalam tulisan yang diakibatkan oleh kerusakan pikiran atau tulisan tersebut ditulis dengan tidak sadar atau di bawah ancaman. Oleh karena itu, Habermas menjelaskan bahwa keseluruhan makna yang termuat di dalam teks tersebut mengalami kerusakan dari dalam. Maka, seorang penafsir perlu mengetahui seberapa besar kerusakan tersebut. Menurut Habermas suatu teks mengungkapkan sebuah komunikasi yang telah terdistorsi secara sisitematis dalam tiga lapisan yakni, pada lapisan simbol-simbol bahasa komunikasi yang terdistorsi itu kelihatan memakai aturan-aturan yang menyimpang dari bahasa umum. Sedangkan pada lapisan perilaku suatu language game yang terdistorsi kelihatan dari kekakuan dan repetisi kompulsif dan yang terakhir ketika melihat sistem komunikasi terdistorsi itu sebagai keseluruhan, kesenjangan yang ada diantara berbagai lapisan komunikasi tampak jelas, seperti pada konkruensi lazim antara simbolisme bahasa, tindakan-tindakan dan ungkapan-ungkapan yang telah hilang.[28] Hal ini menunjukkan bahwa terjadi ketidak sadaran Penulis dan kekacauan teksnya. Hal ini juga menjadi kritik Habermas pada hermeneutik biasa yang dikembangkan oleh Dilthey dan Gadamer yang hanya berfokus pada kekaburan teks, tetapi tidak sampai mencurigai bahwa ada kaitan antara kekaburan teks dengan gangguan kesadaran Penulis. Hermeneutik kritis melampaui hermeneutik biasa dalam artian bahwa metode hermeneutik kritis berupaya untuk menemukan motif yang tidak disadari oleh Si Penulis. Untuk mampu menemukan masalah tersebut dibutuhkan metode versthen dan Erklaren. Metode ini memiliki dua cara yakni, merekonstruksi teks dan mendorong refleksi penulisnya. Hal ini dilakukan agar mampu melakukan interpretasi dan menganalisis mengapa teks tersebut dapat dihasilkan. Dalam hermeneutik kritis, memahami bukan tugas seorang pembaca, melainkan juga tugas Penulis. Oleh sebab itu, Habermas menyatakan bahwa tugas hermeneutik kritis tercapai bila pemahaman bagi penafsir juga merupakan pemahaman bagi Penulis.[29] Maka dari itu, pada psikoanalisis, seperti kritik ideologi merupakan sebuah analisis sekaligus refleksi kritis yang meneurt Habermas sendiri digerkan pada kepentingan emansipatoris.






BAB III

REFLEKSI KRITIS



1.      Analisis Pandangan Jurgen Habermas

1.1 Pandangan tentang memahami dalam hermeneutik kritis Habermas

Pendapat Habermas tentang memahami cukup masuk akal, sebab dengan memahami seseorang barulah mampu untuk menjelaskan dari apa yang dia pahami. Konsep Habermas tentang memahami yang berfokus pada pemahaman yang berasal dari diri menjadi bagian terpenting untuk menafsirkan sesuatu dan dalam memahami kosep Habermas tidak perlu terlalu memperhatikan konteks atau tradisi, dan aturan yang berlaku secara umum serta sistematis. Namun, dalam kosep Habermas tentang memahami tidak harus selalu berpatokan pada konteks atau tradisi, dan aturan yang berlaku secara umum dan tersistematis kurang tepat sebab, memhami diri seutuhnya dengan refleksi tidaklah cukup. Menurut Penulis, konteks atau tradisi dan aturan yang berlaku secara umum dan sistematis merupakan salah satu pendukung seseorang dalam hermeneutik. Jika seseorang mampu memahami dirinya dalam hermeneutik sangat baik. akan tetapi, sebuah hermeneutik dilakukan demi tujuan kedepan dan bukan hanya sekadar untuk memahami saja. Padangan Habermas akan hermeneutik cukup menarik bagi Penulis, dikarenakan pandangan hermeneutik Habermas juga memasukkan refleksi akan diri sendiri menjadi salah satu cara dalam memahami, yang dia sebuat juga sebagai yang membebasakan. Pengertian Habermas ini dapat dikatakan cocok dalam konteks penafsiran kitab suci. Untuk menegrti dan mampu memahami isi kitab suci tersebut (Firman Tuhan) seseorang perlulah merefleksikannya agar apa maksud dari Firman itu dapat dikenal dengan baik, sebab makna dan nilai pada bahasa yang ada di dalam isi kitab suci tersebut bukan sekedar apa yang tertulis. Pemahaman Habermas akan hermeneutik kritis ini mengajak seseorang masuk ke dalam diri sendiri untuk merefleksikan dirinya sendiri. Dengan refleksi diri ini Habermas mengharapkan akan ada dalam diri suatu kebebasan. Kebebasan yang dimaksud oleh Habermas ialah keadaan diri yang secara penuh sadar akan apa yang dialami dalam kehidupan.[30] Sebab ada kalanya seseorang membuat suatu teks atau memahami suatu teks, seseorang tersebut berada dalam suatu tekanan seperti paksaan dari orang lain atau mengalami ganguan seperti terindokrinasi. Sehingga teks yang ditafsir atau yang dibuat menjadi tidak jelas dan kabur.

1.2  Analisis Pemikiran Habermas dengan Pemikiran Filsuf lain.

Sejak awal Habermas tidak secara langsung membahas pokok pikirannya tentang hermeneutik. Tetapi pemikiran hermeneutik Habermas muncul melalui kritik-kritik yang ia sampaikan kepada beberapa tokoh hermeneutik seperti Hegel, Karl Marx, dan Gadamer. Melalui kritik-kritik tersebutlah Habermas membut pengertian tersendiri yang menurutnya lebih tepat. Kritik-kritik Habermas tersebut juga menjadi kekhasan dari hermeneutik Habermas dapat terlihat. Salah satu kritik Habermas pada Gadamer ialah pendapat Gadamer yang menyatakan bahwa prasangka dan otoritas tidak dapat sama sekali dibersihkan dari pemahaman teks karena upaya pembersihan itu sendiri adalah sebuah prasangka. Sebaliknya prasangka dan otoritas justru merupakan komponen-komponen yang memungkinkan pemahaman teks, maka tugas pembaca adalah membedakan antara prasangka yang legitim dan yang illegitim.[31] Pendapat Gadamer tersebut menyakan bahwa pada suatu teks pastilah terdapat pemahaman prasangkan dan otoritas. Habermas menolak pendapat ini sebab tidak semua teks terdapat prasangka dan otoritas, sebab ada juga teks yang sungguh-sungguh terlepas dari prasangka dan otoritas yakni teks yang dihasilkan oleh seorang yang mampu menjadi bebas dalam dirinya. Menurut Habermas, Gadamer terlalu fokus pada proses pemahaman dan mengabaikan fakta bahwa pemahan juga dapat dikendalikan oleh tujuan dan proses-proses kekuasan.[32] Namun sebenarnya pendapat Habermas mirip dengan pendapat Gadamer. Habermas menyatakan bahwa dalam pemahaman ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni refleksi diri sendiri, situasi penulis teks, bahasa dalam teks. Tanpa disadari oleh Habermas sebenarnya ia juga membuat suatu prasangka dan otoritas pada suatu teks dengan mencurigai suatu teks dari Si Penulis. Di satu sisi pendapat Gadamer dapat dibenarkan yang menyatakan bahwa suatu bahasa yang berpegang teguh pada pendirian saja akan menjadikan suatu bahasa tersebut sebagai “alat” saja.[33] Bagi Gadamer bahasa memang suatu sarana alat komunikasi antarmanusia. Namun, bahasa merupaka sarana komunikasi bukanlah makna yang terdalam dari suatu bahasa.

Sebagian besar titik tolak pemikiran Habermas berasal dari Karl Marx.[34] Sebab pemikiran Habermas bertitik pangkal pada gagasan Marx tentang teori kritis. Namun Habermas juga mengkritik teori Marx, dengan menuduh bahwa pemikiran Marx berdimensi satu. Ia memahami semua hubungan anatarmanusia menurut pola pekerjaan. Sedangkan pekerjaan itu sendiri adalah sebuah tindakan sepihak, dimana tindakan yang aktif akan menguasa tindakan yang pasif. Jadi, menurut Habermas pekerjaan bukanlah suatu tindakan dialogis, melainkan pekerjaan itu sebuah  sikap tepat terhadap alam. Karena itu Habermas berkesimpulan bahwa pekerjaan tidak tepat sebagai kerangka pengertian bagi hubungan antarmanusia. Jadi, siapa yang memahami hubungan anatarmanusia sebagai pekerjaan, memahaminya sebagai hubungan kekuasaan.[35]

2.      Kaitan Pemikiran Habermas Dengan Mata Kuliah Logika dan Bahasa.

Pada mata kuliah logika dan bahasa dikatakan bahwa bahasa adalah salah satu produk paling besar manusia. Bahasa yang itu diciptakan dan dilahirkan oleh manusia, dan pada akahirnya bahasa itu sendiri dapat membentuk manusia serta tanpa bahasa, secara praktis isi produk-produk dari kegiatan manusia tidak akan mungkin terwujud. Pemahaman tersebut terbukti benar sebab bahasa menjadi sarana seseorang untuk menjalin relasi dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan hal yang sangat vital dalam diri setiap manusia. Bahasa yang juga ambil peran dalam pembentukan pribadi manusia, hal tersebut dilihat dari beberapa tokoh filsafat yang dibahas pada paper ini. Dalam gagasan hermeneutik kritis Habermas sangat menekankan pemahaman diri dan dan Si Penulis teks. Dalam sebuah teks yang hendak ditafsirkan diperlukan memperhatikan pribadi dari Si Penulis teks tersebut sebab menurut Habermas seseorang yang menuliskan teks harus menggunakan bahasa yang tepat sehingga maksud dari Penulis dapat dipahami oleh seseorang yang menafsirkan. Dengan demikian, diperoleh suatu kesepahaman bersama. Teks yang baik merupakan salah satu penilaian bahwa pikiran dan daya nalar Si Penulis juga baik. maka dari itu, pendapat Habermas dengan materi mata kuliah dapat menjadi akaurat kepastiannya, yakni penggunaan bahasa harus digunakan secara cermat, logika yang menyibukkan diri dengan fakta diharapkan menyibukkan diri dengan menggunakan bahasa yang tepat dan kesesatan bernalar dapat terjadi karena penggunaan bahasa yang tidak tepat serta penggunaan bahasa yang tidak netral dari subjek tersebut.

3.       Relevasi Pemikiran Habermas bagi Penggunaan Bahasa Pada Zaman ini.

Salah satu pemikiran Habermas yang menarik untuk kehidupan masa kini adalah dalam konsep memahami Habermas didasari oleh kritik-ideologis merupakan praksis pembebasan dari kesepahaman semu hasil dominaasi untuk mencapai kesepahaman rasional yang bebas dominasi. Di masa ini, orang begitu mudah dan gampang dalam menegeluarkan pendapatnya tentang suatu, berkomentar tentang suatu, menuliskan sesuatu dan ide tentang seseuatu. Segala yang dilakukan tampak begitu mudah bahkan kadang-kadang tidak bertanggung jawab atas apa yang dikatakan dan dituliskan. Untuk masa ini, Penulis berpendapat bahwa pemikiran Habermas sangat cocok diterapkan pada zaman ini, yakni untuk memahami perkataan, terutama memhami suatu teks berita atau teks apapun, seperti  buku atau opini, seseorang pertama-tama memahami diri dengan refleksi diri. Setelah menyadari diri dengan sungguh (mencapai kesepahaman yang rasional yang bebas dominasi) barulah melihat teks atau argumen dan melihat Si Penulis dan Si Pemberi argumen atau pendapat dengan kritis apakah tersebut argumen dikendalikan oleh proses-proses kekuasan atau dalam kondisi adnormal. Menurut Si penulis, argumen Habermas tersebut sangat dibutuhkan pada masa ini. sebab dimasa ini banyak juga terjadi kejadian-kejadian atau masalah-masalah yang diakibatkan oleh kesalahan paham atas kenyataan atau realitas secara khusu dalam memahami suatu tulisan atau naskah. Sebagai contoh kelompok isis yang melakukan pemberontakan dan pembantaian yang disebabkan oleh paham yang dianut oleh kelompok tersebut dan paham mereka dianggap suatu kebenaran yang pasti, sebab paham terdapat pada kitab suci mereka. Salah satu contoh yang disampaikan oleh Habermas adalah kasus perilaku terindokrinasi. Hal yang terpenting pada masa kini bagaimana seseorang memahami atas apa yang terjadi atau realitas itu sendiri dengan memahami bahasa yang digunakan seseorang. Di Indonesia, ada banyak ragam bahasa dan lambang-lambang yang memiliki makna tersendiri bagi penganutnya. Untuk mengurangi kesalah pahaman atas bahasa-bahasa dan lambang tersebut dibutuhkan pemahaman diri yang cukup baik dan juga perlu memperhatiakan ruang dan waktu yang terjadi.

4.      Relevansi Pemikiran Habermas Bagi Penulis Sebagai Calon Imam.

Penulis, pada saat ini sedang menjalani masa pembinaan sebagai seorang calon imam. Oleh karena calon imam, tugas dari seorang imam kelak (bisa juga mulai saat ini), yakni mewartakan kabar gembira kepada semua orang dengan Kitab Suci sebagai sumber utama. Sebagai seorang pewarta kabar gembira tentu berbagai cara yang baik dilakukan demi sampainya kabar gembira tersebut kepada semua orang seperti berkatekese, berkotbah, homili, dan membuat sebuah tulisan-tulisan atau buku atau sejenisnya. Semua itu merupakan cara dari pewartaan kabar gembira tersebut. Namun cara pewartaan tersebut dapat terhalang oleh bahasa yang digunakan dari Penulis tersebut tidaklah tepat dan baik apalagi bahasa yang digunakan itu salah dan yang terlebih parah lagi memahami sebuah teks-teks secara khusus teks Kitab Suci dengan tidak tepat atau tidak benar. Maka pewartaan tersebut tidak akan sampai pada setiap orang. Oleh karena itu, melalui tokoh Habermas tersebut, Penulis mengambil suatu nilai bagi dirinya dalam pewartaan, yakni memahami suatu bahasa yang terdapat pada teks Kitab Suci dan merefleksikannya dan merenungkan dengan sebuah dialog dengan Tuhan, sehingga saya sungguh memahami teks Kitab Suci tersebut. Dengan demikian, Penulis paham akan apa yang diwartakan kepada orang lain. Dengan pemahaman yang baik itu pula, Penulis diharapkan mampu membahasakan lebih baik apa yang dipahami oleh Penulis tentang teks Kitab Suci tersebut. Habermas menyatakan bahwa bila seseorang tidak paham akan apa yang dipahami, akan sulit juga seseorang tersebut menyampaikan apa yang dipahaminya kepada orang lain. Hal seperti itu disebut oleh Habermas adalah kerusakan bahasa atau bahasa yang kabur. Pandangan Habermas tidak cocok dalam ajaran agama katolik (terutama penulis sebagai calon imam) sebab, pandangan Habermas tentang memahami sebagai membebaskan. Membebaskan dalam konsep Habermas bahwa dalam memahami sebuah teks atau naska tidak berada dalam otoritas tertentu melainkan kebebasan subjek. Sedangkan penulis harus senantiasa berada dalam ajaran paus terutama peneulis harus senantiasa mengatas namakan pewartaan demi nama Yesus Kristus. Ini menjadikan bawa penulis berda dalam otoritas dengan pemimpin paus sebagai wakil Kristus.  Oleh karena itu, penulis tidak menganut atau mengambil gagasan Jurgen Habermas secara menyeluruh melainkan hal-hal yang yang dibenarkan oleh gereja katolik saja seperti refleksi dengan suatu dialog dalam menafsirkan naska atau teks (secara khusus Kitab Suci). 













BIBLIOGRAFI



Bertens, K. Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman. Jakarta: Gramedia, 1981.

Chaer, Abdul. Filsafat Bahasa. Jakarta: Rineka Cipta, 2015.

Hadirman, F. Budi. Seni Memahami. Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Sumaryono, E. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1999.

Suseno, Franz M. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta: Kanisisus, 1992.

Soekanto, Soerjono. Teori Sosiologi Tenteng Pribadi Dalam Masyarakat. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia, 1982.

Shadily, Hassan. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: Bina Aksara, 1983.



[1] Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi Tenteng Pribadi Dalam Masyarakat (Jakarta Timur: Ghalia Indonesia, 1982), hlm. 8.
[2] Hassan Shadily, Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia (Jakarta: Bina Aksara, 1983), hlm. 65.
[3] Abdul Chair, Filsafat Bahasa (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm. 175.
[4] E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 2015), hlm. 89.
[5] Abdul Chair, Filsafat Bahasa ..., hlm. 175.
[6]  Abdul Chair, Filsafat Bahasa ..., hlm. 176.
[7] E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat ..., hlm. 91.
[8] Wilhelm Cristian Ludwig Dilthey ( 1833-1911) adalah seorang yang terpelajar dalam keluarga protestan Jerman. Dia dilahirkan di kota Biebrich di tepi sungai Rhain dekat kota Mainz pada tanggal 19 November 1833.
[9] E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat ..., hlm. 92.
[10] Abdul Chair, Filsafat Bahasa ..., hlm. 178.
[11] Geisteswissenschaften adalah istilah Jerman yang diterjemahkan oleh Dilthey menjadi ilmu-ilmu sosial kemanusian. Geisteswissenschaften yaitu semua ilmu-ilmu sosial, semua disiplin yang menafsirkan ungkapan-ungkapan kehidupan batiniah manusia, entah ungkapan itu berupa gestur-gestur, tindakan-tindakan historis, hukum yang terkodifikasi, karya-karya seni atau kesusastraan. 
[12] F. Budi Hadirman, Seni Memahami (Yogyakata: Kanisius, 2015), hlm. 93.
[13] E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat ..., hlm. 93.
[14] E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat ..., hlm. 94.
[15] E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat ..., hlm. 94.
[16] F. Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 201.
[17] E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat ..., hlm. 95.
[18] E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat ..., hlm. 88.
[19] Kerja adalah proses atau sintesis yang terdapat pada manusia dan alam [Lihat Franz M. S. Filsafat sebagai ilmu krtis, hlm. 213].
[20] Bdk. F. Budi Hadirman, Seni Memahami (Yogyakata: Kanisius, 2015), hlm. 213.
[21] Lih. E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat ..., hlm. 97.
[22] E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat ..., hlm. 98.
[23] Bdk. K. Bertens, Filsafat Barat Abab XX Inggris-Jerman (Jakarta:Gramedia, 1998), hlm. 225.
[24] Bdk. K. Bertens, Filsafat Barat Abab XX ..., hlm. 226.
[25] F. Budi Hadirman, Seni Memahami ..., hlm. 218.
[26] F. Budi Hadirman, Seni Memahami ..., hlm. 223.
[27] F. Budi Hadirman, Seni Memahami ..., hlm. 224.
[28] F. Budi Hadirman, Seni Memahami ..., hlm. 226.
[29] F. Budi Hadirman, Seni Memahami ..., hlm. 230.
[30] Bdk. F. Budi Hadirman, Seni Memahami ..., hlm. 219.
[31] F. Budi Hadirman, Seni Memahami ..., hlm. 175.
[32] F. Budi Hadirman, Seni Memahami ..., hlm. 214.
[33] K. Bertens, Filsafat Barat Abab XX  ..., hlm. 232.
[34] Paham pemeikiran Karl Marx adalah paham sebuah teri kritis, yakni dimana sebuah teori yang sebgai teori, sebagai kritik ideologi, menjadi praksis dan berdampak pada emansipasi pada masyarakat.
[35] F. Mangnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu ..., hlm. 224.

Rangkuman atas Insani dan Ilahi Yesus serta Kematian dan Kebangkitan Yesus Kesatuan antara ilahi dan insani dalam diri Yesus...

KEWAJIBAN KHUSUS KLERUS (DIOSESAN) BERDASARKAN KHK 1983 KANON 273 1